Slider

Powered by Blogger.
Latest Post

Rumah Rakyat Harus Disubsidi!

Written By Unknown on Tuesday, June 25, 2013 | 9:18 PM




Pemotongan subsidi BBM, yang berdampak pada kenaikan harga BBM, pada dasarnya memiliki semangat berkeadilan bagi masyarakat. Agar subsidi tersebut tepat sasaran, maka pemerintah menilai sudah waktunya masyarakat pengguna BBM, yang umumnya memiliki kendaraan pribadi, lebih mandiri tanpa bantuan.

Sayangnya, kebijakan tersebut bak pisau bermata dua. Di satu sisi pemerintah ingin memberikan keadilan, di sisi lain kenaikan harga BBM mampu memicu kenaikan harga barang lainnya, termasuk properti. Daya beli masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) pun semakin terpuruk.

Menanggapi kenaikan harga BBM tersebut, Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz sempat mengutarakan rencananya menaikkan harga rumah sederhana sehat (RSH). RSH yang semula berada pada kisaran Rp 88 juta-Rp 145 juta akan ditingkatkan. Dengan catatan, jangka cicilan akan mengalami perpanjangan. Namun, besaran kenaikan harganya hingga saat ini belum dipastikan dan masih menunggu hasil kajian.

Ketua Umum DPP Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Eddy Ganefo berharap, rencana kenaikan harga RSH tidak menjadi kenyataan dalam waktu dekat. Bahkan bila memungkinkan, subsidi BBM dialihkan untuk subsidi RSH ataupun untuk pengembang RSH agar harga tidak berubah.

"APERSI berharap harga rumah subsidi jangan naik dulu karena tanpa peningkatan harga pun keterjangkauan konsumen makin jauh, Biaya hidupnya semakin tinggi akibat kenaikan BBM. Namun jika biaya produksi tetap naik, kami berharap pemerintah dapat menambah subsidi kepada MBR ataupun pengembang sehingga harga bisa dipertahankan," ujarnya Eddy kepada Kompas.com, di Jakarta, Selasa (25/6/2013).

Meski berharap tidak akan ada kenaikan harga, Eddy mengaku sudah menyiapkan strategi menghadapi kenaikan harga yang tidak terbendung akibat naiknya biaya produksi. Antara lain menekan biaya-biaya seperti perijinan, pertanahan, dan listrik.

Ikuti Pelatihan Property di http://propertybusinessacademy.com/

BBM Naik, Pengembang Kecil Pangkas Keuntungan



Kenaikan tarif BBM berpengaruh besar terhadap daya beli, tingkat penjualan, dan juga marjin keuntungan (profit margin) para pengembang properti.

Betapa tidak, bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang tidak memiliki resistensi perubahan harga, naiknya BBM melemahkan daya beli. Mereka harus berpikir ulang untuk kemudian menunda pembelian rumah karena harganya sudah berubah dan di luar angka yang telah diproyeksikan sebelumnya.

Hal ini jelas mempengaruhi tingkat penjualan pengembang rumah murah. Tak hanya membuat laju penjualan menjadi lambat, lebih jauh lagi mengoreksi target pendapatan penjualan (marketing sales).

Ketua DPD APERSI DKI Jakarta Ari Tri Priyono mengatakan melemahnya daya beli MBR yang berakibat pada perlambatan laju penjualan properti memaksa para pengembang menghitung ulang target penjualannya.

"Kami pasti akan mengoreksi target pendapatan menjadi lebih realistis dan sesuai dengan kondisi aktual. Apalagi sekarang akan memasuki semester kedua. Ini artinya kesempatan untuk menjual rumah tahun ini tinggal setengah tahun lagi," jelas Ari kepada Kompas.com, di Jakarta, Selasa (25/6/2013).

Selain mengoreksi target pendapatan, beberapa pengembang ada yang memilih opsi memangkas profit margin (selisih keuntungan) hingga beberapa persen lebih rendah. Riscon Realty memastikan memangkas selisih keuntungan menjadi hanya 11 sampai 12 persen dari sebelumnya 15 hingga 16 persen. Alasannya, ketimbang menaikkan harga jual dengan nilai yang tidak dapat diakomodasi pasar, lebih baik menunda raupan keuntungan lebih besar.

Bukan tanpa motivasi jika Gemilang Property memilih opsi ini. Mereka masih memiliki 500 unit RSH dalam kondisi siap jual. "Daripada tidak terserap, lebih baik memberikan kemudahan pembiayaan kepada konsumen berupa uang muka lebih rendah menjadi hanya 5 sampai 10 persen," ujar CEO Gemilang Property, Elang Gumilang, seraya menambahkan diferensiasi produk juga perlu dilakukan agar pasar tetap tertarik meskipun harga BBM naik.

Direktur Operasional Wika Realty, Widyo Praseno juga mengonfirmasi bahwa pihaknya tidak akan merevisi target pendapatan. Selama suku bunga KPR tidak melonjak, tingkat inflasi masih dapat dikendalikan dan kebutuhan rumah belum terpenuhi, maka sektor properti masih aman.

"Namun begitu, kami akui bahwa daya beli kalangan tertentu pasti melemah. Ini sudah kami antisipasi sejak jauh hari. Kami bermain di "profit margin". Tidak terlalu besar, tetapi masih bisa untung. Namanya juga bisnis," ujar Widyo.

Ikuti Pelatihan properti agar menjadi pengembang yang lebih handal di http://propertybusinessacademy.com/

Kenaikan BI Rate Tak Berpengaruh Pada Penjualan Properti


Direktur Pakuwon Jati, Stefanus Ridwan mengungkapkan, kenaikan BI Rate tidak terlalu berpengaruh pada penjualan produk properti. Seperti diketahui, adapun kenaikan BI rate sebesar 25 bps menjadi 6 persen.

"Kenaikan BI Rate tidak akan memberikan pengaruh besar terhadap pasar properti dalam negeri. Namun demikian, antisipasi pasar tetap ada jika nantinya perbankan memutuskan kenaikan suku bunga untuk kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA) yang cukup besar," katanya usai Paparan Publik di Jakarta, Selasa (25/06/2013).

Stefanus menjelaskan, kekhawatiran pelaku industri properti saat ini adalah ketidakstabilan posisi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.

Menurutnya, apabila nilai dolar terus-terusan naik, itu yang dikhawatirkan para pengembang karena akan berpengaruh juga ke nilai properti.

Sementara itu, Direktur Utama PT Senopati, Aryani Prima Lukman Purnomosidi menjelaskan, selama pertumbuhan industri masih di atas 20 persen dan suku bunga KPR masih di kisaran 7-8 persen, maka kenaikan BI rate tidak akan berpengaruh besar pada permintaan (demand) properti.

Di samping itu lanjut Aryani, dengan BI Rate naik maka efeknya suku bunga KPR akan meningkat dan investor juga akan lebih memilih simpan uang di bank, karena bunganya menarik.

"Akan tetapi selama suku bunga masih di kisaran 7-8 persen dampak ke demand dan penjualan properti tidak akan terlalu besar," tambahnya.

Ikuti Pelatihan Property di http://propertybusinessacademy.com/

Yuan Perkasa, China "Invasi" Inggris

Written By Unknown on Monday, June 24, 2013 | 8:22 PM




Terus melemahnya nilai tukar "pound" terhadap "yuan" sejak pertengahan 2007, kian membangkitkan semangat investor China merambah Inggris. Salah satu konglomerat  terbesar China, Dalian Wanda Group, bahkan mulai mengguritakan bisnisnya di Negeri Monarki ini.

Teranyar, mereka positif  membenamkan dananya senilai 1 miliar pound atau setara dengan Rp 15,2 triliun di London. Pengembang yang sepenuhnya dikendalikan miliarder Wang Jianlin ini akan mengembangkan hunian vertikal tertinggi di Eropa Barat.

Apartemen tersebut menjulang 205 meter (673 kaki). Lokasinya dekat dengan Gedung Parlemen Inggris. Kawasan ini merupakan salah satu klaster berkumpulnya gedung-gedung tinggi yang disebut Nine Elms. Menurut Council on Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH), gedung apartemen tertinggi di Eropa Barat saat ini adalah HSB Turning Torso di Malmo, Swedia, setinggi 190 meter.

Wanda juga bakal menghabiskan dana sekitar 700 juta pound (Rp 10,6 triliun) untuk hotel mewah setinggi 62 lantai dan apartemen di atas lahan di South Banks Sungai Thames. Selain itu, mereka telah setuju membayar 320 juta pound (Rp 4,8 triliun) untuk membeli 92 persen Sunseeker International Ltd, pemilik sebuah "yacht" mewah yang dikendarai Daniel Craig dalam film James Bond.

"Pengembang Cina perlu mengembangkan pasar luar negeri sebagai akibat pembatasan ekspansi properti domestik mereka oleh pemerintah setempat. Mereka sangat kaya untuk melakukan itu. Bahkan di Negara Eropa yang telah mapan sekalipun," ujar Zuo Hongying, analis Shanghai AJ Securities Co.

London sendiri telah menjadi surga investasi asing pasca krisis finansial global. Penurunan nilai tukar "pound" sangat menarik investor asal Malaysia dan juga Russia. Mereka bahkan kepincut terhadap pengembangan Battersea Power Station, di mana sekitar setengah dari proyek apartemennya telah dijual di pasar luar negeri. Pengembang China, termasuk China Vanke Co (200002), juga memperluas pangsa pasarnya di sini untuk ikut meraup keuntungan dari tingginya permintaan properti.

"Investasi di London dianggap jauh lebih aman ketimbang Shanghai. Hasil investasi pun sudah pasti lebih tinggi. Pound telah kehilangan sekitar 37 persen terhadap yuan sejak pertengahan Juni 2007," kata Head of Research Jones Lang LaSalle Shanghai, James MacDonald.

Sumber : businessweek.com

BBM Naik, Harga Property Langsung Naik Hingga 10%





Beberapa hari pasca kenaikan tarif BBM, para pengembang yakin dan percaya diri meningkatkan harga jual propertinya sebesar rata-rata sepuluh persen (5-15 persen). Meskipun produsen material strategis pabrikan seperti baja, besi, semen, cat dan keramik belum mengeluarkan pernyataan kenaikan harga, namun beberapa pengembang perumahan kelas menengah, baik swasta maupun BUMN, sepakat memberlakukan harga jual baru ini pada 1 Juli mendatang.

Presiden Komisaris PT Grahabuana Cikarang, Tanto Kurniawan, mengatakan perubahan harga akan efektif diterapkan pada 1 Juli dengan besaran kenaikan lima persen. Tahun ini, mereka membuka dua klaster baru residensial, yakni Beverly Hills dan Oscar, dengan harga jual Rp 1,4 miliar per unit. Sedangkan properti komersialnya berupa ruko Hollywood Arcade dengan penawaran Rp 2,3 miliar.

"Kami sangat hati-hati menaikkan harga jual. Untuk itu, besarannya pun tidak terlalu jor-joran dan waktu pemberlakuannya tidak serta merta, karena kami melihat kenaikan tarif BBM ini bukan momentum untuk meraup untung. Tidak semua komponen material bangunan tergantung pada perubahan BBM. Jadi, harus dilihat proporsinya berdasarkan kontribusi terhadap biaya produksi," papar Tanto.

Sementara PT Nusa Kirana, akan mengenakan tarif baru pada portofolio teranyarnya, yakni Rorotan Kirana Legacy. Pada 1 Juli nanti, unit-unit properti, baik residensial maupun komersial bakal mengalami perubahan harga jual sebesar lima persen.

Menurut Wakil Kepala Bagian Pemasaran Nusa Kirana, Dhiki Kurniawan, pihaknya tengah memasarkan klaster pertama Rorotan Kirana Legacy, yakni North Folk. Klaster ini berisi 218 unit rumah dengan tawaran mulai dari Rp 800 juta untuk ukuran 7x17 meter persegi hingga Rp 1,2 miliar (9X18 m2). Jadi, pada saat hari "H" nanti, harga jual ini berubah menjadi Rp 840 juta sampai Rp 1,270 miliar.

"Sebetulnya, kami sudah mengantisipasi kenaikan BBM sejak awal tahun ini. Karena itu, ketika memutuskan menaikkan harga jual produk, tidak terlalu agresif besarannya," ujar Dhiki.

Selain perubahan tarif BBM, masa-masa puasa Ramadhan dan Lebaran juga menjadi bahan pertimbangkan dalam meningkatkan harga jual. Momentum seperti ini yang membuat permintaan melambat dan bahkan terjadi penundaan pembelian. Sehingga para pengembang lebih berhati-hati dalam memutuskan besaran kenaikan harga.

Pertahankan Marjin Keuntungan

Wika Realty, sebagai salah satu pengembang BUMN anak usaha Wijaya Karya, juga tengah melakukan evaluasi dan analisa kenaikan harga. Upah pekerja, harga material bangunan, dan kontrak kerja yang sudah ditandatangani adalah beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan harga produk properti mereka.

Menurut Direktur Operasional Wika Realty Widyo Praseno, pihaknya sudah pasti menyesuaikan harga baru produk terbaru mereka. Kisarannya antara 10 hingga 12 persen dan berlaku untuk enam portofolio yang sedang dipasarkan. Mereka adalah Taman Sari Bukit Mutiara Samarinda, Tamansari Majapahit Semarang, Tamansari Metropolitan Manado, Tamansari Debang, Tamansari Kendari, dan Grand Tamansari Samarinda.

Namun, waktu pelaksanaannya akan disesuaikan dengan hasil evaluasi dan analisa beberapa faktor tersebut di atas. Ada dua opsi waktu pelaksanaan perubahan harga yakni 1 Juli atau setelah Lebaran.

"Strategi perubahan harga biasanya kami buat 12 kali sampai proyek berakhir. Namun, karena faktor perubahan tarif BBM, bisa dipangkas menjadi 8 atau 10 kali. Karena kami juga tidak ingin dengan harga baru, produk menjadi tidak terserap pasar," tandas Widyo kepada Kompas.com, di Jakarta, Senin (24/6/2013).

Besaran persentase kenaikan harga properti yang cenderung konservatif itu, lanjut Widyo, adalah juga untuk mempertahankan target marketing sales. Asal target penjualan marketing 2013 sebesar Rp 1,4 triliun tercapai dan masih terdapat marjin keuntungan.

"Kami memilih memangkas marjin keuntungan ketimbang menaikkan harga secara bombastis namun target meleset," imbuh Widyo.

Wika sendiri Oktober nanti akan merilis perumahan anyar di Kariangau, Balikpapan, Kalimantan Timur seluas 30 Hektar. Tipikal unit rumah yang mereka tawarkan adalah 36 meter persegi hingga 60 meter persegi dengan rentang harga Rp 350 juta-Rp 900 juta.

ikuti Pelatihan Property di http://propertybusinessacademy.com/

djan faridz : Subsidi untuk perumahan pasti ada

Written By Unknown on Sunday, June 23, 2013 | 8:04 PM



Sebelum pemerintah resmi mengurangi jumlah bantuan subsidi bahan bakar minyak, Deputi Bidang Perumahan Swadaya Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) Jamil Ansari sudah memberikan sambutan positif.

Menurut Jamil, agar subsidi BBM tidak salah sasaran, program tersebut seharusnya dapat dievaluasi. Ia mengkalkulasi, setidaknya ada Rp 3 triliun yang bisa dialihkan dari program subsidi BBM tersebut bagi program perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Kini, keputusan pengurangan subsidi sudah final. Nah, bagaimana dengan Rp 3 triliun tersebut?

Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, pengalihan dana subsidi BBM bagi program perumahan swadaya pasti akan ada. Hal tersebut dia sampaikan dalam tinjauannya ke Kantor pos Jakarta Selatan dalam rangka pembagian Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), Sabtu (22/6/2013).

"Kalau untuk perumahan itu ada, pasti ada, dan memang ada. Kita dapat satu tahun 250.000 rumah untuk warga. Nah, ini kita akan dapat tambahan tahun depan 250.000, jadi 500.000 unit rumah. Dobel jadinya. Dana itu dari APBN untuk tahun depan," ujarnya.

"Satu rumah Rp 7,5 juta. Kalau yang rusak berat, tidak mungkin bisa diperbaiki, kita bantu Rp 10 juta," lanjutnya.

Faridz menerangkan, besaran Rp 7,5 juta akan diberikan secara merata di seluruh Indonesia, kecuali Papua. Rumah-rumah swadaya di Papua akan menerima bantuan sebesar Rp 15 juta. Sementara itu, penyebarannya akan sesuai dengan rasio penduduk dan indeks kemiskinan. Dengan kata lain, bantuan akan paling banyak terdapat di Pulau Jawa.

Terakhir, lanjut Faridz, dana yang dialihkan dari subsidi BBM tersebut baru akan efektif mulai tahun depan.

jadilah expert di bidang property dengan mengikuti training di http://propertybusinessacademy.com/

Jakarta Sebagai Kota Ter Integrasi

Written By Unknown on Thursday, June 20, 2013 | 1:58 AM


 Pada dialog yang diselenggarapan Komunitas Peta Hijau, Sabtu (15/6/2013) lalu, para pengamat perkotaan menyampaikan ide membuat Jakarta sebagai kota yang ramah terhadap pengguna sarana transportasi massal. Dalam dialog tersebut disimpulkan, seyogianya titik-titik drop off transportasi massal terintegrasi dengan lajur pejalan kaki, pusat perbelanjaan, serta hunian pengguna transportasi umum tersebut.

Menurut para pengamat, cara tersebut dapat meningkatkan kenyamanan dan rasa aman pengguna transportasi umum dan "membujuk" pengguna transportasi pribadi untuk mulai meninggalkan kendaraannya. Sayangnya, ide itu tidak akan terwujud dalam waktu dekat.

Di sela acara Kolokium Jalan dan Jembatan 2013 di Bandung, Rabu (19/6/2013), Kepala Pusat Litbang Jalan dan Jembatan Herry Vaza mengatakan, mewujudkan ide sarana transportasi terintegrasi masih jauh dari harapan, meskipun cikal bakalnya sudah mulai disiapkan. Dengan kata lain, gerakan menuju kawasan terintegrasi belum ada.

Menurut Herry, saat ini Balitbang Puslitbang Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum lebih berkonsentrasi pada usaha optimalisasi jalan yang sudah ada sebelumnya. Selain itu, pihaknya juga berkonsentrasi pada usaha mitigasi bencana, serta perawatan jalan dan jembatan.

Saat ini, meski belum sampai pada tahap pembuatan cetak biru sarana dan prasarana transportasi massal terintegrasi, namun makalah-makalah yang disajikan dalam kolokium hari itu sudah menunjukkan adanya perhatian besar pada masyarakat pengguna jalan. Beberapa peneliti telah mengevaluasi pembangunan dan perawatan jalan, usaha pengkoreksian kesalahan konstruksi jalan, evaluasi jalur pejalan kaki, serta ada pula pemaparan desain jalur sepeda. Tidak hanya itu, berbagai teknologi pembuatan jalan yang lebih ramah lingkungan juga tengah dikembangkan dalam puslitbang.

Herry menjelaskan, penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam Puslitbang meliputi penelitian strategis, inovasi, dan tematik.

"Kalau strategis itu diturunkan dari road map, jadi kita yang mengkaji, lalu kita turunkan jadi road map. Kalau inovasi, itu kita turunkan dari permintaan stakeholder atau isu hangat saat ini. Kalau tematik, mungkin keinginan dari peneliti. Dari sana juga bisa berpindah jadi strategis atau inovatif," ujar Herry.

Dalam rangka mempertajam kegiatan tersebut, lanjut Herry, sebelum dituntaskan dan dijadikan produknya, hasil penelitian tersebut menjadi informasi tambahan dari para stakeholder. Informasi itulah yang disebut kolokium.

"Kolokium itu seperti seminar untuk mempertajam penelitian yang akan kita hasilkan pada akhirnya tahun anggaran ini atau tahun anggaran mendatang. Saat ini ada 13 kelompok penelitian. Tapi, mungkin paling utama itu bagaimana kita bisa membuat, mengoptimalkan jalan yang sudah ada tanpa harus memperpanjang jalan," lanjutnya.

Ikuti Pelatihan Property di http://propertybusinessacademy.com/
 
Support : Blog Unik | Website PBA | Property bussiness academy
Copyright © 2011. Training Property - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger